Kota paling dinamis Vietnam yang tidak pernah berhenti — Ho Chi Minh (Saigon) memadukan sejarah perang yang mengubah abad ke-20 dengan kafe-kafe Instagrammable, kuliner pho dan banh mi terbaik di dunia, dan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Kota yang selalu mengejutkan.
Ho Chi Minh City (atau Saigon, seperti masih banyak disebut warganya) adalah kota yang berdiri di atas paradoks. Di satu sisi: War Remnants Museum yang menampilkan dokumentasi Perang Vietnam yang sangat raw dan emosional. Di sisi lain: Distrik 1 yang gemerlap dengan rooftop bars, restoran fine dining, dan mal-mal mewah yang tidak kalah dari Bangkok atau Singapura. Kota ini telah melampaui masa lalunya sambil tidak melupakannya.
Kuliner Saigon adalah yang terbaik di Asia Tenggara untuk value-for-money. Pho bo (beef noodle soup) dari warung kecil berusia puluhan tahun dengan kuah kaldu berjam-jam. Banh mi Huynh Hoa yang memenangkan 'banh mi terbaik dunia' dari berbagai publikasi. Com tam (broken rice) dengan grilled pork chop. Bun bo Hue yang lebih pedas. Dan che (dessert noodle) dalam puluhan variasi yang membuat kepala pusing memilih.
Jalan kaki di sekitar Bến Thành Market adalah sensory overload yang luar biasa — ribuan penjual dalam satu pasar, negosiasi harga yang bisa memangkas 70% dari harga awal, dan aroma rempah-rempah yang menyatu dengan parfum jalanan kota tropis. Jalan Dong Khoi — 'Champs Élysées Saigon' — adalah kawasan boutique, hotel heritage, dan café bersejarah yang kontras dengan gang-gang kecil di sekitarnya.
Vietnam secara umum bebas visa untuk warga Indonesia untuk kunjungan hingga 45 hari (per kebijakan terbaru 2023) — salah satu kebijakan visa paling liberal Vietnam yang sangat menguntungkan wisatawan Indonesia. Makanan halal tersedia di Distrik 1 terutama di sekitar Masjid Jamial Musulmin dan kawasan Q1 Binhthanh. Pho dan fresh spring rolls (goi cuon) umumnya tanpa pork.