Ibu kota utara Thailand yang memikat hati — Chiang Mai memadukan 300+ kuil kuno di dalam tembok kota bersejarah, resort tepi sungai yang mewah di antara kebun teh, budaya Lanna yang unik, dan kehidupan kafe-kafe yang sangat hangat. Kota yang paling sering membuat wisatawan memperpanjang kunjungannya.
Chiang Mai adalah antitesis yang sempurna dari Bangkok — di sini, waktu berjalan lebih lambat, orang lebih hangat, dan setiap sudut Old City menyimpan kuil berusia ratusan tahun yang masih aktif. 309 kuil dalam satu kota (diperkirakan rasio tertinggi per kapita di seluruh dunia) menciptakan atmosfer spiritual yang sangat unik dan berbeda dari kota lain manapun di Asia Tenggara.
Budaya Lanna Chiang Mai adalah percabangan unik dari budaya Thai utara yang mempertahankan tradisi tersendiri — bahasa dialek yang berbeda, arsitektur yang berbeda (kuil Lanna menggunakan kayu jati dan ornamen yang lebih besar), dan festival-festival yang tidak ditemukan di bagian Thailand lain. Loy Krathong Chiang Mai (Yi Peng) — festival lampion yang melepaskan ribuan lampion ke langit malam — adalah pengalaman yang masuk dalam bucket list banyak orang di seluruh dunia.
Chiang Mai adalah pusat digital nomad Asia yang berkembang pesat. Kafe-kafe dengan WiFi cepat, co-working spaces modern, biaya hidup yang sangat terjangkau, dan komunitas internasional yang ramah menjadikan Chiang Mai konsisten masuk dalam daftar kota terbaik dunia untuk digital nomad dan remote worker. Nimman Road adalah jantung kehidupan ini — deretan kafe, restoran, dan butik yang tidak ada habisnya.
Untuk wisatawan Indonesia, Chiang Mai menawarkan kombinasi yang sangat menarik: kelas memasak Thai, kunjungan ke elephant sanctuary (gajah tanpa rantai yang hidup bebas), trekking ke desa-desa suku perbukitan, dan belanja batik Thailand di Night Bazaar yang terkenal. Semua ini dalam kota yang sangat walkable dan mudah dijelajahi bahkan tanpa panduan.