Ibukota Guangdong dan gerbang perdagangan Tiongkok — Guangzhou adalah kota bisnis terbesar di selatan China yang juga menjadi pusat kuliner Cantonese otentik, Canton Fair dua kali setahun, dan hub perantara perdagangan Indonesia-China yang paling aktif. Kota yang paling pragmatis namun sangat kaya.
Guangzhou (Canton) adalah kota di mana bisnis adalah segalanya. Sebagai kota pelabuhan utama China selama lebih dari 2.000 tahun, Guangzhou telah membangun tradisi perdagangan yang tidak ada duanya. Canton Fair — pameran dagang dua kali setahun (April dan Oktober) yang dihadiri lebih dari 200.000 buyers dari seluruh dunia termasuk sangat banyak pedagang Indonesia — adalah alasan utama banyak orang Indonesia mengunjungi Guangzhou.
Dim sum Guangzhou adalah yang paling autentik di dunia — bahkan lebih dari Hong Kong karena ini adalah kota asalnya. Yum cha pagi di restoran-restoran tua seperti Pan Xi dan Tao Tao Ju adalah ritual yang tidak berubah selama 100 tahun. Wonton noodles di Liwan, roast goose di Qingyuan, dan chicken rice Hainanese di Hainan restaurant adalah versi paling autentik dari hidangan yang telah dikopi seluruh dunia.
Guangzhou sedang bertransformasi. CBD Zhujiang New Town dengan Canton Tower (600 meter, tertinggi ketiga di dunia saat pembangunan) adalah wajah Guangzhou modern yang sangat futuristik — sangat berbeda dari gambaran tradisional kota ini. Liwan (Xiguan) Old Town menyimpan sisi bersejarah kota dengan mansions keluarga kaya Cantonese dari era 1920s-30s.
Untuk wisatawan Indonesia Muslim, Guangzhou adalah kota yang relatif lebih mudah untuk halal food dibanding Beijing atau Shanghai. Kawasan Arab Street di sekitar Xiaobei Road adalah pusat komunitas Muslim Arab, Africa, dan Asia Selatan yang sangat besar dengan banyak restoran halal. Masjid Huaisheng (salah satu masjid tertua di dunia, didirikan 627 M oleh paman Nabi Muhammad) ada di sini.