Ibu kota keuangan Asia yang memadukan Art Deco Bund bersejarah dengan Pudong futuristik, kuliner fusion terbaik di Tiongkok, dan seni kontemporer yang paling vibrant di Asia. Shanghai adalah kota yang membuktikan bahwa modernitas dan sejarah bisa hidup berdampingan dalam harmoni yang menakjubkan.
Shanghai adalah paradoks yang hidup. Di satu sisi The Bund — deretan 52 gedung Art Deco era 1920-an yang pernah menjadi 'Wall Street of Asia' dan kini menjadi promenade paling ikonik di seluruh Asia. Di seberang Sungai Huangpu, Pudong dengan Shanghai Tower (tertinggi kedua di dunia, 632m), Oriental Pearl TV Tower yang futuristik, dan Jin Mao Tower yang menjadi simbol China modern. Dua dunia yang saling menatap di seberang sungai adalah pemandangan yang tidak ada di kota lain manapun.
French Concession adalah Shanghai yang paling disukai para traveler kreatif — distrik bekas pemerintahan Prancis dari abad ke-19 yang kini menjadi kawasan plane trees yang rindang, boutique-boutique desainer, cafe-cafe specialty, restoran fusion Shanghainese-Western, dan galeri seni kontemporer. Xintiandi, The Cool Docks, dan Tianzifang adalah distrik revitalisasi yang menjadi daya tarik tersendiri.
Kuliner Shanghai adalah salah satu yang paling beragam di Asia — xiaolongbao (soup dumpling) di Din Tai Fung atau lebih autentik di Jia Jia Tang Bao, hairy crab di musim gugur yang menjadi ritual tahunan, scallion pancake di jalanan Old Town, dan mapo tofu berbeda dari versi Sichuan. Xiaolongbao yang digigit pelan-pelan agar supnya tidak tumpah adalah skill yang harus dipelajari di Shanghai.
Untuk wisatawan Indonesia, Shanghai memerlukan visa China yang prosesnya cukup mudah. Perlu diketahui bahwa Google, WhatsApp, Instagram, dan YouTube diblokir di China — download VPN terpercaya sebelum berangkat. Layanan yang berfungsi di China: Baidu Maps (lebih akurat dari Google Maps untuk China), WeChat Pay dan Alipay (sangat perlu untuk pembayaran), dan DiDi (Grab-nya China, sangat terjangkau).