Kota yang memanjang di dua benua — Istanbul adalah satu-satunya kota di dunia yang berdiri di Eropa dan Asia sekaligus, dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Hagia Sophia, Blue Mosque, Grand Bazaar, dan teh di tepi Bosphorus menjadikan Istanbul kota yang paling kaya sejarah di seluruh dunia setelah Roma.
Istanbul adalah kota yang menyimpan lebih banyak lapisan sejarah dari kota manapun di bumi — ibukota tiga kekaisaran besar (Romawi Timur/Byzantium, Latin, dan Ottoman) selama hampir 1.600 tahun berturut-turut. Hagia Sophia yang dibangun tahun 537 M — yang selama 900 tahun menjadi gereja terbesar di dunia sebelum menjadi masjid dan kemudian museum dan masjid lagi — adalah bangunan paling kompleks sejarahnya di seluruh planet ini.
Selat Bosphorus adalah nadi Istanbul — perjalanan feri melintasi selat yang memisahkan Eropa dan Asia adalah pengalaman yang hanya bisa dilakukan di Istanbul. Kapal tanker raksasa, penumpang lokal yang membawa tas belanja, dan nelayan di tepian jembatan Galata yang telah melempar kail selama ratusan tahun — semua dalam satu pemandangan yang tidak mungkin ada di kota lain.
Kuliner Istanbul adalah perpaduan 1.000 tahun perdagangan Silk Road — simit (pretzel Turki) pagi hari di tepian Bosphorus, börek (pastry keju atau daging) dari tukang börek berusia 50 tahun, kebab Adana di Fatih yang pedas membara, meze dan rakı di tepi sungai Bosphorus, dan baklava dari Hafız Mustafa sejak 1864. Dan Turkish breakfast — yang satu meja penuh dengan keju, madu, zeytin, telur, dan roti — adalah pengalaman kuliner yang tidak ada tandingannya.
Untuk wisatawan Indonesia Muslim, Istanbul adalah salah satu kota paling ideal di Eropa-Asia — negara dengan 99% populasi Muslim, azan terdengar dari masjid setiap hari, halal food di mana-mana, dan tidak perlu khawatir soal makanan seperti di Eropa Barat. Selain itu, wisatawan Indonesia bebas visa ke Turki (kebijakan terbaru) untuk kunjungan 30 hari, menjadikan Istanbul gateway yang sangat mudah ke Eropa dari arah Timur Tengah.